Petuah Legenda Dari Jawa Lewat Seni Sastra

Legenda Dari Jawa

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang tahu tentang seni sastra dari Jawa. Bahkan penduduk lokal dari Jawa pun belum pasti tahu tentang itu. Seni sastra Jawa mungkin memang hampir punah karena sudah jarang di antara kita yang mempelajarinya. Jadi alangkah lebih baiknya bagi kita untuk mempelajari ataupun setidaknya mengetahui sedikit informasi tentang itu.

Seni sastra Jawa adalah seni sastra seperti pada umumnya, hanya saja berbeda pada bahasa yang digunakan, yaitu pada sastra Jawa menggunakan bahasa Jawa yang jarang digunakan dalam keseharian orang Jawa pada umumnya. Pada masa-masa kerajaan di zaman dahulu, kehadiran seni ini sudah banyak mendapatkan berbagai macam pengaruh. Pengaruh yang paling menonjol dari budaya luar adalah budaya Hindu dari India dan budaya Islam dari Arab. Dari segi bahasa yang digunakan pun rupanya berbeda-beda. Seni sastra jawa menurut bahasanya dibedakan menjadi beberapa. Simak ulasannya di bawah ini.

Beberapa sastra Jawa memiliki bahasa yang berbeda-beda. Karena memang pada dasarnya bahasa Jawa sendiri memang beragam sekali. Berikut ini adalah beberapa seni sastra Jawa berdasarkan bahasanya.

Seni Sastra Jawa Kuno

Seni Sastra Jawa Kuno
Sastra ini lebih banyak mendapatkan pengaruh dari India. Biasanya berbentuk puisi atau disebut dengan nama kakawin. Tetapi beberapa juga berbentuk parwa (prosa). Sastra ini hidup pada abad kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Jawa (Mataram Hindu sampai Majapahit) yaitu sekitar abad IX-XVII. Beberapa karya besar di zaman tersebut antara lain Ramayana karya Yogiswara, Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Hariwangsa karya Mpu Panuluh, Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Panuluh, Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, dan masih banyak yang lainnya.

Seni Sastra Jawa Tengahan
Bahasa Jawa Tengahan mulai digunakan pada abad XVI, yaitu pada masa kerajaan Majapahit sampai dengan masuknya Islam di Jawa. Jika sastra Jawa Kuno menggunakan metrum dari India, untuk sastra Jawa Tengahan menggunakan metrum Jawa. Bentuknya adalah kidung (puisi). Karya-karya kidung pada masa itu antara lain Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Kidung Sunda, Wangbang Wideya, dan lain sebagainya.

Sastra Jawa baru
Bahasa Jawa Baru mulai digunakan dalam sastra semenjak masuknya Islam ke Jawa. Kemudian semakin berkembang lagi pada saat kerajaan Demak berkuasa. Dalam sastra Jawa Baru, rupanya terdapat perbedaan yang cukup unik dibandingpendahulunya. Dalam masa ini sastra selain disampaikan dengan tulisan namun juga dengan lisan, atau yang biasa kita kenal dengan nama cerita rakyat. Contoh-contoh karya sastra Jawa Baru antara lain Babad Dipenegoro I, Babad Diponegoro III, Bendhe Ki Becak, dan lain sebagainya.

Itulah tadi beberapa ulasan mengenai seni sastra Jawa yang pernah ada di jaman dahulu. Selain seni-seni sastra tersebut, ada juga seni sastra Jawa Modern yang lebih banyak ada di sekitar bettor judi online di daerah pulau Jawa saat ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk anda para pembaca.

Leave a Reply